Berwisata Religi Ke Goa Myanmar

Mengintip Goa Tempat Pertemuan Semua Agama di Myanmar

 

Di Myanmar terdapt banyak kuil, tempat peribadatan, serta tempat pertemuan agama.  Buddha memang menjadi agama mayoritas di Myanmar. Meski begitu, di Kota Yangon, tak sedikit masjid yang saya temukan sepanjang perjalanan. Salah satunya berlokasi persis di seberang pasar tertua serta paling terkenal di Yangon, yaitu Scott Market.

Pemandu wisata kami waktu itu bernama Nang Hla May. Hari itu ia berbalut kain khas Bali, untuk menghormati para tamunya yang asal Indonesia.

Pada hari di bulan November itu, hujan deras mengguyur Yangon. Nang Hla May sudah menyediakan payung untuk tiap orang, sehingga agenda wisata kami tak terganggu.

“Sekarang kita akan menuju ke sebuah goa tempat berlangsungnya Buddhist Council yang ke-6. Goa buatan ini rutin digunakan untuk pertemuan dalam rangka perdamaian agama di Myanmar,” tuturnya.

Nang Hla May kemudian turun dari bus dan membuka payung. Ia itu kemudian memberikan payung kepada semua anggota rombongan.

“Lepas alas kaki dari sini,” tuturnya lagi.

Maha Pasana Guha Cave, begitu nama gua tersebut. Goa ini tidaklah alami, melainkan sengaja dibuat untuk perhelatan Buddhist Council ke-6 yang digelar pada 1952.

Gua ini berbentuk aula dengan panjang 64 meter dan lebar 43 meter. Bagian kanan dan kiri gua terdapat ribuan kursi yang berderet membentuk tribun. Di bagian tengah terdapat podium utama. Patung-patung Buddha berderet sepanjang aula, dari yang berukuran besar hingga kecil.KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Gua ini berbentuk aula dengan panjang 64 meter dan lebar 43 meter. Bagian kanan dan kiri gua terdapat ribuan kursi yang berderet membentuk tribun. Di bagian tengah terdapat podium utama. Patung-patung Buddha berderet sepanjang aula, dari yang berukuran besar hingga kecil.

“Goa ini sengaja dibuat karena dulu, 2.500 tahun yang lalu, Buddhist Council yang pertama digelar di dalam sebuah gua di India,” papar May, panggilan akrab wanita itu.

Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 50 meter sebelum tiba di pintu masuk utama. Hujan turun semakin deras. Namun begitu masuk ke dalam Maha Pasana Guha Cave, suara gemuruh hujan di luar berubah menjadi dengungan saja.

Goa ini berbentuk aula dengan panjang 64 meter dan lebar 43 meter. Bagian kanan dan kiri goa terdapat ribuan kursi yang berderet membentuk tribun. Di bagian tengah terdapat podium utama. Patung-patung Buddha berderet sepanjang aula, dari yang berukuran besar hingga kecil.

“Selain goa, waktu Buddhist Council digelar, dibangun juga Kaba Aye Pagoda alias World Peace Pagoda,” tambah May.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah dinding dan pilar gua yang ditempeli batu giok. KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah dinding dan pilar gua yang ditempeli batu giok.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah dinding dan pilar goa yang ditempeli batu giok. May menuturkan bahwa giok memang salah satu jenis batu mulia yang banyak ditemukan di wilayah utara Myanmar.

“(Myanmar) Wilayah utara menjadi penghasil gem yang diimpor ke berbagai negara. Giok dan ruby hanya dua di antaranya. Oleh karena itu, banyak pagoda di Myanmar yang bertahtakan batu mulia,” papar dia.

Kini, Maha Pasana Guha Cave menjadi tempat diadakannya pertemuan rutin yang membicarakan perdamaian antar umat beragama.

“Terutama untuk empat agama utama di Myanmar: Buddha, Kristen, Muslim, dan Hindu,” tambah May.

Selama KompasTravel melakukan perjalanan di Yangon, tak ada secuil pun sikap intoleransi yang dikeluarkan warganya. May sangat menegaskan hal ini, bahkan begitu pertama kali saya bertanya soal isu Rohingya.

“Di Yangon sini, warga sangat toleran. Anda yang berhijab bisa membuktikannya sendiri,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *